Tari Remo Jawa Timur


ini kumpulan artikel tentang tari remo, ini salah satu tugas dari mata pelajaran seni budaya, saya kumpulkan dari berbagai sumber menjadi satu artikel :D selamat membaca :D

 

Tari Remo dari Jawa Timur

Jawa Timur terkenal dengan adatnya yang keras dan pemberani. Surabaya, sebagai ibukota Jawa Timur, sudah membuktikan hal ini sejak masa perjuangan dahulu sehingga mendapat predikat Kota Pahlawan. Budaya keras Jawa Timur ternyata juga bisa ditampilkan dengan gerakan indah pada Tari Remo yang menggambarkan keberanian seorang pangeran

Sejarah Asal-usul Tari Remo

Tari Remo adalah gambaran kharakter dinamis masyarakat Jawa Timur dan merupakan tarian penyambut tamu lewat gerak selamat datang khas Jawa Timur. Tarian ini pada awalnya merupakan tarian pengantar pertunjukan ludruk atau wayang kulit jawa timuran. Namun, saat ini sering ditarikan secara terpisah sebagai sambutan atas tamu kenegaraan dalam upacara kenegaraan, maupun dalam festival kesenian daerah.

Tarian Remo menceritakan perjuangan seorang pangeran dalam medan laga. Akan tetapi dalam perkembangannya tarian ini menjadi lebih sering ditarikan oleh perempuan, sehingga memunculkan gaya tarian yang lain: Remo Putri atau Tari Remo gaya perempuan.

Disebutkan bahwa tarian remo ini di promosikan sekitar tahun 1900, yang kemudian dimanfaatkan oleh nasionalis indonesia untuk berkomunikasi kepada masyarakat.

Tata Gerak Tari Remo

Karakteristika yang paling utama dari Tari Remo adalah gerakan kaki yang rancak dan dinamis. Gerakan ini didukung dengan adanya lonceng-lonceng yang dipasang di pergelangan kaki. Lonceng ini berbunyi saat penari melangkah atau menghentak di panggung. Selain itu, karakteristika yang lain yakni gerakan selendang atau sampur, gerakan anggukan dan gelengan kepala, ekspresi wajah, dan kuda-kuda penari membuat tarian ini semakin atraktif.

 

Alat Musik dalam Tari Remo

Tari Remo diiringi dengan musik gamelan dalam suatu gending yang terdiri dari bonang, saron, gambang, gender, slentem, siter, seruling, ketuk, kenong, kempul dan gong dan irama slendro.Biasanya menggunakan irama gending jula-juli Suroboyo tropongan, kadang kadang diteruskan dengan walang kekek,gedong rancak, krucilan atau kreasi baru lainnya.

Tari remo dapat ditarikan dengan gaya wanita atau gaya pria baik di tampilkan secara bersama-sama atau bergantian.

Tata Busana Tari Remo

Busana dari penari Remo ada berbagai macam gaya, di antaranya: Gaya Sawunggaling, Surabayan, Malangan, dan Jombangan. Selain itu terdapat pula busana yang khas dipakai bagi Tari Remo gaya perempuan. Penarinya menggunakan jenis kostum yaitu sawonggaling atau gaya surabaya yang terdiri dari bagian atas hitam yang menghadirkan pakaian abad 18,celana bludru hitam dengan hiasan emas dan batik, dipinggang ada sebuah sabuk dan keris, dipaha kanan ada selendang menggantung sampai kemata kaki. Penari perempuan memakai simpul(sanggul) di rambutnya.

Sumber : https://docs.google.com/document/d/1MnEYyECjK_zWpPkMW4FFe8UtePb35WrKup_wVKPAwqI/edit

Tari Remo

Tari Remo adalah salah satu tarian untuk penyambutan tamu agung, yang ditampilkan baik oleh satu atau banyak penari. Tarian ini berasal dari Provinsi Jawa Timur.

Asal-usul

Tari Remo berasal dari Kabupaten Jombang, Jawa Timur[rujukan?]. Tarian ini berasal dari kecamatan Diwek Di desa Ceweng, tarian ini diciptakan oleh warga yang perprofesi sebagai pengamen tari di kala itu, memang banyak profesi tersebut di Jombang, kini Tarian ini pada awalnya merupakan tarian yang digunakan sebagai pengantar pertunjukan ludruk. Namun, pada perkembangannya tarian ini sering ditarikan secara terpisah sebagai sambutan atas tamu kenegaraan, ditarikan dalam upacara-upacara kenegaraan, maupun dalam festival kesenian daerah. Tarian ini sebenarnya menceritakan tentang perjuangan seorang pangeran dalam medan laga. Akan tetapi dalam perkembangannya tarian ini menjadi lebih sering ditarikan oleh perempuan, sehingga memunculkan gaya tarian yang lain: Remo Putri atau Tari Remo gaya perempuan.

Menurut sejarahnya, tari remo merupakan tari yang khusus dibawakan oleh penari laki – laki. Ini berkaitan dengan lakon yang dibawakan dalam tarian ini. Pertunjukan tari remo umumnya menampilkan kisah pangeran yang berjuang dalam sebuah medan pertempuran. Sehingga sisi kemaskulinan penari sangat dibutuhkan dalam menampilkan tarian ini.

Berdasarkan perkembangan sejarah tari remo, dulunya tari remo merupakan seni tari yang digunakan sebagai pembuka dalam pertunjukan ludruk. Namun seiring berjalannya waktu, fungsi dari tari remo pun mulai beralih dari pembuka pertunjukan ludruk, menjadi tarian penyambutan tamu, khususnya tamu – tamu kenegaraan. Selain itu tari remo juga sering ditampilkan dalam festival kesenian daerah sebagai upaya untuk melestarikan budaya Jawa Timur. Oleh karena itulah kini tari remo tidak hanya dibawakan oleh penari pria, namun juga oleh penari wanita. Sehingga kini muncul jenis tari remo putri. Dalam pertunjukan tari remo putri, umumnya para penari akan memakai kostum tari yang berbeda dengan kostum tari remo asli yang dibawakan oleh penari pria.

Tata Gerak

Karakteristika yang paling utama dari Tari Remo adalah gerakan kaki yang rancak dan dinamis. Gerakan ini didukung dengan adanya lonceng-lonceng yang dipasang di pergelangan kaki. Lonceng ini berbunyi saat penari melangkah atau menghentak di panggung. Selain itu, karakteristika yang lain yakni gerakan selendang atau sampur, gerakan anggukan dan gelengan kepala, ekspresi wajah, dan kuda-kuda penari membuat tarian ini semakin atraktif. SANDAL

Tata Busana

Busana dari penari Remo ada berbagai macam gaya, di antaranya: Gaya Sawunggaling, Surabayan, Malangan, dan Jombangan. Selain itu terdapat pula busana yang khas dipakai bagi Tari Remo gaya perempuan.

Busana gaya Surabayan

Terdiri atas ikat kepala merah, baju tanpa kancing yang berwarna hitam dengan gaya kerajaan pada abad ke-18, celana sebatas pertengahan betis yang dikait dengan jarum emas, sarung batik Pesisiran yang menjuntai hingga ke lutut, setagen yang diikat di pinggang, serta keris menyelip di belakang. Penari memakai dua selendang, yang mana satu dipakai di pinggang dan yang lain disematkan di bahu, dengan masing-masing tangan penari memegang masing-masing ujung selendang. Selain itu, terdapat pula gelang kaki berupa kumpulan lonceng yang dilingkarkan di pergelangan kaki.

Busana Gaya Sawunggaling

Pada dasarnya busana yang dipakai sama dengan gaya Surabayan, namun yang membedakan yakni penggunaan kaus putih berlengan panjang sebagai ganti dari baju hitam kerajaan.

Busana Gaya Malangan

Busana gaya Malangan pada dasarnya juga sama dengan busana gaya Surabayan, namun yang membedakan yakni pada celananya yang panjang hingga menyentuh mata kaki serta tidak disemat dengan jarum.

Busana Gaya Jombangan

Busana gaya Jombangan pada dasarnya sama dengan gaya Sawunggaling, namun perbedaannya adalah penari tidak menggunakan kaus tetapi menggunakan rompi.

Busana Remo Putri

Remo Putri mempunyai busana yang berbeda dengan gaya remo yang asli. Penari memakai sanggul, memakai mekak hitam untuk menutup bagian dada, memakai rapak untuk menutup bagian pinggang sampai ke lutut, serta hanya menggunakan satu selendang saja yang disemat di bahu bahu.

Pengiring

Musik yang mengiringi Tari Remo ini adalah gamelan, yang biasanya terdiri atas bonang barung/babok, bonang penerus, saron, gambang, gender, slentem siter, seruling, kethuk, kenong, kempul, dan gong. Adapun jenis irama yang sering dibawakan untuk mengiringi Tari Remo adalah Jula-Juli dan Tropongan, namun dapat pula berupa gending Walangkekek, Gedok Rancak, Krucilan atau gending-gending kreasi baru. Dalam pertunjukan ludruk, penari biasanya menyelakan sebuah lagu di tengah-tengah tariannya.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Remo

SEJARAH TARI REMO Label: Jawa Timur, Kesenian Tradisi, Sanggar Seni Panji Laras Mungkin sebagian orang pernah mendengar ataupun melihat tarian yang mempunyai ciri-ciri terdapat kidungan (nyanyian-red) di dalam tarian, dan juga gemericik suara gongseng (lonceng –red) disepanjang tarian. Itulah Tari Remo. Tarian ini berasal dari Jombang, Jawa Timur, yang menceritakan tentang perjuangan seorang prajurit dalam medan laga. Pada awalnya tari ini merupakan tarian yang digunakan sebagai pengantar pertunjukan ludruk ataupun juga dalam kesenian tayub yang juga disebut dengan lenggeran. Namun, sekarang tarian ini lebih sering ditarikan sebagai sambutan atas tamu kenegaraan, dan juga acara resmi lainnya. terkadang tarian ini ditarikan secara masal dalam perayaan hari besar kenegaraan Tari Remo sebenarnya mempunyai 2 gaya yaitu gaya putra dan gaya putri. Untuk gaya putra lebih sering ditarikan dalam pembuka pertunjukan ludruk, sedangkan gaya putri sering ditarikan dalam kesenian tayub oleh para penari-penari lengger. Tari ini dalam perkembangannya tersebar diseluruh jawa timur, jadi tak heran jika di masing-masing daerah di jawa timur juga terdapat tari remo dengan ciri atau gaya khas masing-masing daerah. Antara lain Malang, Surabaya, Situbondo, dll. Dan tidak menutup kemungkinan oleh karena dimasing-masing daerah banyak terdapat grup / kelompok kesenian, tari Remo telah mengalami beberapa perubahan dalam gerak, khususnya ukelan. Begitu juga di sanggar Panji Laras. Musik yang mengiringi Tari Remo ini adalah gamelan jawa timuran, yang biasanya terdiri atas bonang barung/babok, bonang penerus, saron, gambang, gender, slentem siter, seruling, kethuk, kenong, kempul, dan gong. Adapun jenis irama yang sering dibawakan untuk mengiringi Tari Remo adalah Jula-Juli atau gending-gending kreasi baru. Untuk kostum tari remo penarinya menggunakan jenis kostum yang terdiri dari bagian atas hitam yang menghadirkan pakaian abad 18 berbentuk rompi dengan dasar yang nyorak seperti putih ataupun merah, celana pendek bludru hitam dengan hiasan emas, dipinggang ada sebuah sabuk dan keris .dipaha kanan ada selendang menggantung sampai kemata kaki. di kaki kanan terdapat gongseng sebagai gelang. Di sebutkan bahwa tarian remo ini di promosikan sekitar tahun 1900, yang kemudian dimanfaatkan oleh nasionalis indonesia untuk berkomunikasi kepada masyarakat. Panji laras sebagai salah satu dari sekian banyak sanggar yang terdapat di jawa timur ikut melestarikan tarian ini, dengan membuat beberapa kreasi gerak dalam tarian Remo (terutama gaya Monali Fatah), agar tari ini terus dapat dilestarikan sebagai wujud kekayaan dan nuansa budaya khususnya Jawa Timur tercinta ini.

Sumber : http://tipsbarudipercaya.blogspot.com/2012/07/sejarah-tari-remo.html

Seni dan Budaya

Tari Remo merupakan tarian khas yang berasal dari kota Jombang, Jawa Timur. Tarian ini menceritakan tentang sebuah perjuangan gigih seorang pangeran yang maju berperang di medan laga.

Pada awal mulanya kesenian tari remo disajikan hanya sebagai pengantar kesenian Ludruk, tapi untuk waktu sekarang seiring perkembangannya serta berbagai trobosan seni telah menyajikan kesenian tari remo ini secara terpisah. Dari yang dulu hanya sebagai pengantar pertunjukan kesenian Ludruk (kesenian Jatim lainnya), menjadi kesenian yang disaji dengan berbagai acara dan pertunjukan lain seperti Penyambutan tamu kenegaraan, maupun festival kesenian daerah.

Tarian ini tidak hanya diperagakan oleh para kaum pria saja, tapi juga sering di tarikan oleh para kaum perempuan yang menimbulkan gaya tarian lain/berbeda, dari yang diperagakan oleh kaum pria dengan tari remo yang diperagakan kaum perempuan (tari remo putri).

Ciri yang paling khas dari tarian remo ini adalah gerakan kaki yang rancak nan dinamis sehingga menimbulkan suara Gemerincing dari lonceng kecil yang dipasang di pergelangan kaki.

Selain itu gerekan seperti mengempakan selendang/sampur sembari membuka kaki seperti pasangan kuda-kuda dalan seni bela diri pencak silat.

Sedangkan untuk gaya busana ada beberapa macam busana yang sering digunakan:

* Busana Gaya Surabayan

Terdiri dari ikat kepala merah, baju tanpa kancing yang berwarna hitam dengan gaya kerajaan pada abad ke-18, celana sebatas pertengahan betis yang dikait dengan jarum emas, sarung batik Pesisiran yang menjuntai hingga ke lutut, setagen yang diikat di pinggang, serta kering yang menyelip di belajkang. Penari memakai dua selendang, yang satu dipakai di pinggang dan yang lain disematkan di bahu, dan masing-masing tangan penari memegang  masing-masing ujung selendang. Selain itu, terdapat pula gelang kaki berupa kumpulan lonceng yang dilingkarkan di pergelangan kaki.

* Busana Gaya Sawunggaling

Pada dasarnya busana yang digunakan sama dengan gaya Surabayan, akan tetapi perbedaannya adalah penggunaan kaus putih berlengan panjang sebagai ganti dari baju hitam kerajaan.

* Busana Gaya Malangan

Busana gaya Malangan pada dasarnya juga sama dengan busana gaya Surabayan, tetapi yang membedakannya yaitu celananya yang panjang hingga menyentuh mata kaki srta tidak disemat dengan jarum.

* Busana Gaya Jombangan

Busana gaya Jombangan pada dasarnya  sama dengan gaya Sawunggaling, namun perbedaannya adalah penarinya tidak menggunakan kaus tetapi menggunakan rompi.

* Busana Remo Putri

Remo Putri memiliki busana yang berbeda dengan gaya remo asli. Para penari memakai sanggul, memakai mekak hitam menutupi bagian dada, memakai raoak untuk menutup bagian pinggang sampai ke lutut, serta hanya mengguanakan satu selendang saja yang disemat di bahu.

Untuk musik pengiring tari remo adalah sebuah alat musik yang disebut dengan gamelan yang terdiri dari bonang barung/babok, bonang penerus, saron, gambang, gender, slentem siter, seruling, kethuk, keenong, kempul, dan gong. Untuk iramanya sendiri bisa jula-juli, trompongan, walangkekek, dan berbagai gending kreasi anyar lainnya.

Sumber : http://zona-jatim.blogspot.com/2012/07/kesenian-tari-remo.html

Mengenal Tarian Remo – Budaya Seni Tari dari Jawa Timur

RIDWAN 7 DECEMBER 2012 0

Tari Remo

Tari Remo adalah tari yang mengisahkan perjuangan seorang pangeran yang berjuang di medan pertempuran. Untuk menari tari Remo ini dibutuhkan kemaskulinan karena pada umumnya tari remo dibawakan oleh penari lelaki. Pada awalnya, sen tari Remo adalah tari yang digunakan untuk dalam pertunjukan ludruk. Namun seiring waktu, tari Remo menjadi tari pembuka ludruk, lalu menjadi tari penyambut tamu, pada khususnya tamu penting. Tari Remo sendiri asalnya dari Jombang, Jawa Timur. Kesenian tari Remo sendiri saat ini tidak hanya dibawakan oleh penari pria, namun juga penari wanita. Hal ini dilakukan untuk menjaga khasanah kekayaan budaya Jawa Timur.

Foto Penari Tari Remo Jawa Timur

Maka kemudian berkembanglah tari Remo putri yang penarinya memakai sanggul lengkap dengan satu selendang yang disampirkan di bahu, sedangkan penari Remo pria menggunakan busana khas Surabaya dan Jombang. Keindahan tari Remo adalah karakteristik dalam membuat gerakan kaki yang rancak dan dinamis. Pagelaran tari Remo umumnya diiringi dengan alat musik saron, bonang, seruling dan gambang. Tari Remo sekarang bahkan berkembang menjadi tari penyambutan tamu negara seperti tari Yosakoi di Jepang.

Banyak sekali penari-penari dari berbagai daerah yang mengikuti Tari Remo dan Yosakoi, dan hal tersebut membuat keseniat tari ini banyak disukai oleh masyarakat. Apalagi jika dikaitkan dengan kesenian Jepang, dalam hal ini Tari Yosakoi, karena kedua jenis tarian ini memiliki keindahan yang hampir sama.

Fungsi Tari Remo

Tari Remo sering disebut sebagai dengan tari pembukaan acara, dalam suatu hiburan yang dipertontonkan kepada para pecinta seni tari tersebut. Tari Remo kemudian berkembang karena perkembangan seni pertunjukan ludruk. Tari Remo sendiri kemudian berkembang menjadi tari penyambutan tamu-tamu penting dalam pemerintahan. Tari ini disimpulkan sebagai koreografi yang merupakan pemahaman simbolik, sehingga bisa diitepretasikan bermacam-macam oleh yang melihatnya.

Alat Musik Tari Remo

Alat musik yang digunakan untuk mengiringi tari Remo sehingga menjadi satu pertunjukan yang indah dan menyenangkan dilihat. Alat-alatnya adalah gending, gender, gambang, seruling, kenong, slentem, kempul dan gong. Tarian ini menggunakan irama Suroboyo terpongan atau dengan gedong rancak, krucilan dan walang kekek. Tarian ini dapat dilakukan lebih dari satu orang, baik pria dan wanita serta dilakukan bersamaan atau juga bergantian.

Tata Busana Tari Remo

Tata busana tari Remo dapat dibagi menjadi empat, yakni:

Surabayan

Malangan

Sawunggaling, dan

Remo putri

Keempat jenis busana ini hampir sama. Hanya saja pada Remo Surabayan menggunakan lonceng kecil di pergelangan kaki yang mengakibatkan suara yang dinamis. Mengenai celana, Surabayan mengenakan celana pendek selutut, sedangkan malangan menggunakan celana sampai mata kaki. Sedangkan untuk putri menggunakan sanggul dan mekak hitam di bagian dada.

Sumber : http://semangatku.com/567/sosial-budaya/mengenal-tarian-remo-budaya-seni-tari-dari-jawa-timur/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s